Diklat Scraf Madaspala periode 2008-2009, tinggal satu langkah lagi rampung. Aku telah berhasil melawan lelahku, aku mampu menjangkau diluar batas kemampuanku, dan tak aku sangka “aku bisa!” Perjalanan menuju puncak itu, jauh lebih indah, ketimbang berada di atas puncak. Melewati bebatuan yang terjal, bertahan dalam kehausan karena lelah, dan beban bukan hanya sekedar awak dan tas carier. Beban terberat dan terpenting (karena indah) adalah saudara. Aku telah dianggap saudara di Madaspala, meskipun tanpa ikatan darah sekalipun.
Aku telah berhasil mencapai puncak gunung hebat itu, wanita pertama bahkan. Tapi, itu bukan berati setelah menyanyikan lagu Indonesia raya dan madaspala, mengheningkan cipta dan resmi menjadi anggota tetap Madaspala, perjalanan telah usai. Justru itulah awal dari perjalanan yang sebenarnya. Bahkan Mega hampir tergulung-gulung karenanya, Irma (Jingga) muntah-muntah karena masuk angin. Karena itulah, meskipun perjalanan turun curam, badan remuk, kaki kaku-kaku, dan punggung seperti osteoporosis, aku tetap berjalan. Alasan yang sebenarnya, karena aku tidak tega, membebankan tas carierku kepada peserta laki-laki. Apakah setelah aku berhasil menaklukkan gunung, tanpa mengeluh, aku sudah kuat? Belum, tidak samasekali.
Minggu depan, adalah waktu liburanku. Seiring berakhirnya UTS (Ujian Akhir Sekolah) semester 2, berakhir pula masa jabatan Mbak Ifa. Semuanya serba sulit, sepulang sekolah, aku masih harus bekerja lagi. Gadis itu! Ya, aku sangat iba kepadanya. Seandainya, dia mau aku peluk, akan kupeluk dan aku tunjukkan kepadanya, betapa cinta Allah kepadanya!
Mungkin terlalu awam bagiku untuk menjadi guru. Tapi nilai tertinngiku selama bersekolah, adalah -bagiku- mampu mengamalkan dan menyebarkan ilmu itu. Aku telah bertekad untuk menjadi guru mengaji dengan mengikuti PG/PGI. Tapi, lebih dari itu, aku harus berani, karena aku telah berani melawan gunung. Awal bulan April kemarin, aku mengaji tartil di depan khayalak ibu-ibu, karena diundang pengajian tante Nia. Bukankah keberanian yang memalukan lebih baik, daripada pencundang yang tidak merasa berdosa?
Kemarin Jum'at, aku melihat darah. Program kerja Madaspala yang pertama di angkatanku. Donor Darah. Aku tak takut, justru yang aku khawatirkan sebentar lagi, cekung mengalami UNAS.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar