Aku buru-buru mendahului pertemuanku kali ini, segera aku meluncur ke gerbang rumahku. Mengganti pakaianku dan sekeras tenaga menggayuh sepeda kea rah barat. Aku tiba di depan rumah sederhana dengan pekarangan rumah rupawan. Untuk mengunjunginya diperlukan melewati jembatan yang dibawahnya mengalir sungai. Aku tak ingin marah.
Bukankah aku tak pernah memberikan apapun untuknya?
Teganian aku menuntutnya, meskipun cuma menepati janji.
Hanya satu harapanku, bukan hanya untuk Mimid, tak akan pernah aku sanggup menyakiti hati orang lain. Karena aku rasakan, saat ini, sakit bukan main. Walaupun tak ada niat darinya.
Ingat cerita tentang Citra, teman?
Gadis berkulit indah nan langsing, yang membuatku menunggu berjam-jam di pinggir jalan. Hanya bersalah dengan dalil sungkan dengan ayahku. Karena ayahku sudah jingkrak-jingkrak tak karuan.
Jika, tentang Mufti?
Orang yang telah aku dzalimi karena cinta. Sampai tak pernah aku lupa kata-katanya, “Enggak enak kan nunggu?”. Dapat aku rasakan sekarang, apa yang dulu pernah aku injak-injak.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar