Seperti kebanyakan anak yang sebagian besar waktunya direlakan untuk berorganisasi, begitupun aku, sibuk! Apalagi bulan ini, aku telah mengikuti empat organisasi sekaligus. Tetapi, peristiwa kemarin malam merupakan peristiwa yang paling menjengkelkan selama pengalamanku berorganisasi. Dipermalukan di depan khayalak umum sudah barang wajar bagiku.
Seperti sore dimusim penghujan lainnya, hujan turun tiada henti. Tidak seperti biasanya, tenggorokanku sedang sakit dan tak enak badan. Tapi Mufti memaksaku menuju rumah Mbak Qima sepulang dari rumah Mas Zulfin dalam rangka menjenguk. Padahal itu sudah larut malam (sekitar maghrib). Aku tidak suka dan terbiasa pulang selarut itu. Sepanjang perjalanan menuju rumah Mbak Qima, aku memarahinya tanpa henti. Aku sudah tidak kuat lagi menanggung tubuhku yang semakin lama semakin dingin dan ngilu. Tapi Mufti masih memaksaku untuk pulang setelah maghrib. Aku sudah capek memintanya pulang. Tak pernah aku ingin, tiba-tiba air mataku meleleh. Karena tak tega, dengan terpaksa Mufti mengantarkan aku pulang. Akibat dari peristiwa itu, aku sakit demam dan batuk akut.
Nah, kalau cerita yang satu ini beda lagi. Hari minggu kemarin, aku memarahi Ayah habis-habisan tanpa henti. Aku selalu saja menyakiti kedua orangtuaku tanpa henti, baik Ayah maupun Ibu. Aku merasa sangat bersalah. Ketika aku hendak meminta maaf, tetapi Ayah justru mengulurkan tangannya terlebih dahulu. Tanda permohonan maafnya sebagai seorang Ayah kepada anaknya yang kurang ajar. Kasihan lelaki tua itu, begitu pemaaf hatinya, meskipun berperangai keras.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar