Tapi, masih pula Allah mempermudah perjalanan kami (Mimid dan aku) ke rumah Sa’diyah. Gadis sepantaran yang putus sekolah dengan hidup tak menentu.
Alasan apa lagi yang membuatku malas belajar?
Memang sangat konyol. Namun, Spongebob telah mengajariku tentang ketulusan hati. Tak pernah marah sekalipun, loyalitas kepada siapapun. Juga, yang menjadi citra dirinya, pekerja keras. Begitu pun, Doraemon. Meskipun, tak logis, tapi dikenalkannya bagaimana cara bermimpi itu. Tak lupa, Jimmy Newtron yang berkepala buku.
Sekilas, mereka lihat dan rasakan, aku adalah gadis lemah –yang- lembut. Tapi, tak pernah diketahuinya, kerasnya hatiku. Dengan ketidak restuan orang-orang terdekat, aku mendaki gunung yang terjal dan berbatu. Meski tulang pulang terasa patah bahkan daging telah memar, di bawah hujan deras, aku terus melangkah. Melangkah mendapat apa yang aku impikan selama ini. Sesuatu yang luar biasa. Itu ada dalam Madaspala.
Tahukah teman? Itu bukan yang sembarang yang dijual di emperan jalan! Bukan slayer biasa!
Terlalu keras untuk ku ceritakan
Terlalu dahsyat untuk ku kulupakan
Kaya lagu ajah. Penasaran enggak?
Saking derasnya hujan, baru menggerakkan kaki sejauh 2km, kami berhenti di salah satu tempat. Tapi, perjalanan tak boleh dihentikan, karena beberapa teman lelaki menemukan sejenis serangga beracun. “Scorpion”, Mas Ganda bilang. Sampailah waktu menjelang maghrib, tenda seadanya harus dibuat, begitupun dengan makan malam. Malam itu terasa sangat dingin, jika kita berucap, keluarlah asap dalam mulut kita, kaya di tv2 gitu. Baju belum sempat ganti, tibalah waktu tidur. Aku megap-megap, menggigil kedinginan. Ingin rasanya berbagi penderitaan dengan teman-teman. Keesokan harinya, kami berjalan lebih jauh lagi, kira-kira lebih dari 5 km dengan bobot tas mencapai lebih dari 5 kg. Sungguh mengelus dada! Materi navigasi, sungguh melelahkan. Telat 3 jam, bukan karena teman-teman tak pandai menggunakan kompas. Apalagi ketika hujan tak berhenti mengguyur awak saat sore hari. Tidak hanya punggung yang menjadi korban, tangan yang tak pernah bekerja pun kena sasaran menggotong mayat hidup, melewati jalan yang berliku tajam. Baru menutup mata sehela nafas, berteriaklah mereka, “Bangun … bangun … !”. Tanpa protes, seadanya dan seikhlasnya, kami menyusuri sungai. Sungai yang lebarnya hampir 3 meter dengan kedalaman hampir sedada. Bukan hanya itu, sungai di Kaliputih tidaklah datar dengan arus yang biasa-biasa saja. Sungguh malam yang mengerikan! Barang biasa mungkin, push up di sungai puluhan kali, menghabiskan suara tenggorokan, menantang gelap, berselimut dingginnya malam, merendah diri untuk dihina dan dicaci maki, mengunjungi makam dan menyusuri jalan terpal berbatu. Seusai sholat subuh, tibalah kami pada acara puncak. Main air di sungai. Asyik bukan buatan kan, teman? Berlumuran sekujur tubuh, menirukan model sponsor coca cola dan kembali melawan arus sungai. Berkali-kali kami roboh. Bergandengan tangan mengekang persatuan. Mental benar-benar diuji. Yang paling aku takutkan, laba-laba, menghalangi jalanku. Aku menangis untuk sekian kali tantangan. Aku benar-benar takut. Akhirnya, tibalah aku di danau yang hampir menenggelamkan aku. Semua senior menghampiriku, memegang seluruh tubuhku, mencelup-celupkannya di air, berulang kali. Bak jemuran, sambil puluhan kali berseru sekeras pita suara bergetar, “Aku cinta Madaspala”.
Apa lagi yang bisa kau katakan, kecuali hebatnya ekstrakurikulerku itu?
Diklat Outdoor Madspala
Bukan lagi 15 peserta didiklat indoor yang lalu pada angkatan ke 15. Tapi, berganti personil menjadi 13 orang :
- Wedhak (Welek Ndadak)
- Babi (Bukan Anak Biadab)
- Ramires (Rai Miring Ora Beres)
- Jingga (Dijinjing Menganga)
- Sandro (Sangar Deso Rodo)
- Embun (Endek Lemu Mbundeli)
- Simbe (Sangat Ireng Mblekenek)
- Eco (Elek Congok)
- Landu (Langganan Dugem)
- Gospel (Goblok Sangar Pele)
- Buntet (Buntelan Entut)
- Mocin (Modal Cinta)
- Semi (Seneng Minggat)
Dibalik semua kelelahan itu, alam menghibur kita dengan caranya sendiri. Mungkin dia hanya ingin bilang, “Apa aku kurang begitu indah sampai kau harus menyakiti kami?”. Jika malam datang, bertandanglah ke gunung, dengan mata juga mata batin, pandanglah ke daerah pemukiman penduduk



Tidak ada komentar:
Posting Komentar