Teman, jangan kau kira mengikuti banyak organisasi itu mudah!
Sudah berkali-kali, aku mendapat perlakuan buruk. Mungkin, mengikuti suatu organisasi adalah hal yang baru dan pertama bagiku. Bukankah bukan rahasia umum lagi jika aku ini manja dan kekanak-kanakan?
Masih terasa segar ingatanku tentang organisasi kali pertama aku ikuti sepanjang hidupku secara langsung.
Hari demi hari berlalu, tibalah hari dimana aku dengan seluruh senior kelas XI dan XII berkumpul di markasnya. Di sana, aku duduk melingkar, dengan Mufti, Kak Nining dan Irning dan tentunya beberapa teman baru dan senior yang lain. Saat itu, aku hanya mengenal mereka bertiga. Di hari resmi pertama pula itulah, aku mendengarkan Irning bertanya, aku bergumam dalam hati, "Betapa cerdas dan aktifnya teman SMPku ini?".
Sejak hari itupun, aku mulai menebak meski semuanya belum menyadari, jika gadis itu akan membawa perubahan besar. Gadis yang mengajariku banyak hal, termasuk shalat malam, ketika aku membaca bindernya. Aku kagum padanya.
Belum genap satu semester, aku menjabat sebagai bendahara KM3, aku telah menjalani suatu pembelajaran yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup. Gadis mungil nan cabi yang aku kenal selama ini kalem, telah mengubah pandanganku dalam menilai sesuatu. Gadis itu tanpa menjelma dan merasakan sedetikpun menjadi aku, mencibir, mempermalukan dan membunuh kepercayaan diriku di depan umum. Di depan senior, di depan Pak Misbah pula. Dengan hipotesis kinerjaku yang buruk, tanpa mendengar alasanku, tanpa merasakan pula bagaimana sakitnya hatiku saat itu.
Berbulan-bulan aku belajar, bukan belajar untuk memaafkan melainkan bagaimana caranya agar aku memberanikan diri untuk berkumpul bersama mereka kembali, karena aku tak akan pernah bisa untuk marah apalagi dendam. Setelah konflik besar itu berlalu, perlahan keadaan membaik dan kamipun bertegur sapa lagi, tanpa kunyana konflik yang jauh lebih besar datang menghadang setelah lama terpendam, sebagai terdakwah temanku yang pemberani itu.
Tengok aku disini, teman! Tak jauh berbeda dengan sebelumnya, lagi-lagi aku terlupakan. Lagi-lagi, aku dianggap tak becus. Baru saja kemarin, aku masuk dalam lajur yang akan di DO –drop out-. Aku hanya diam, mendesah kecil dengan Citra. Bukan karena mereka antikritik. Karena memang sifat dasarku, pemalu. Hingga sempat aku lebih dipermalukan lagi dalam suatu forum besar, Musyran.
Teman, penderitaanku itu bukan apa-apa! Meskipun Irning termasuk dalam salah satu siswa yang aktif, tapi aku tahu semuanya pun begitu, tak sedikit senior IRM yang membencinya. Bukan karena dia pemalas sepertiku, justru karena tekadnya yang bulat untuk mengadakan proker –program kerja- untuk SDI –Sumber Daya Islam- berupa FESTABHI. Sekali aku kagum bukan main dengannya, dari SMP sampai sekarang tak pernah berubah anak itu, pekerja keras, meskipun caranya kali ini –menurutku- salah.
.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar