Selama 2/5 dasawarsa ini, aku mengalami suatu masa yang baru saja di hadapan Cicit-Cuit dan Taiyegh aku akui. “Hey, teman! Enggak nyangka ya, sekarang kita itu lagi puber.”, kataku penuh semangat. Seakan kami akan mengarungi lautan paling ganas, samudera Pasifik, demi mendapatkan sebuah negeri impian dalam khayalan indah namun bodoh kita masing-masing.Kemarin, di kamarku, aku diam-termenung merenungkan kediamanku ini. Memikirkan diriku yang semakin aku pikirkan, tak mampu lagi otakku berfikir. Who am I? and, What must I do ?
Entahlah …
Coba deh, ikut bayangkan!
Ketika ada, deket dan lagi sama cowo, aku jadi salting gak karuan. Cicit-Cuit, Taiyegh dan aku pun lebih memilih jalan yang jaraknya lebih jauh, ketimbang melewati gerombolan pemangsa kaum hawa itu meskipun jalan itu lebih dekat dengan kelas kami. Tidak hanya itu, kita lebih milih enggak ke koperasi untuk beli cemilan, daripada harus rela dilirik, dilihat atau dipelototin oleh makhluk berjambul-jambul itu.
Ada lagi yang lebih aneh …
Sewaktu SMP, enggak pernah sekalipun aku sekedar ngaca untuk ngecek kerapian kerudungku. Tapi, sekarang –di kelas, di masjid, & anywhere- aku jadi enggak PeDe dengan penampilanku.
Yang ini, enggak bisa dipikir oleh akal sehat …
Kalau ada masalah, aku pasti kebawa suasana. Sering, aku enggak bisa mengkontrol emosiku. Sering marah kalau enggak nangis. Aku berusaha untuk mengatasinya dengan berbagai kiat yang ada di dalam bagian paling atas tubuhku. Tapi, tetap saja sama, enggak jauh beda dengan sebelumnya. Padahal, sebelum aku kaya gini, beberapa detik setelah masalah berlalu –sssseeeettttt- aku langsung lupa.
Itu cuma segelintir kecil bagian dari diriku yang telah direbut oleh dia (masa puber). Aku enggak paham, kenapa jadi kaya gini ya?
Beberapa bulan ini, aku sering bahkan selalu memotivasi, juga menyemangati diriku sendiri. Aku berusaha memandang sesuatu bukan hanya dari sudut pandangku sendiri. Melainkan dari sudut pandang, yang mungkin bagi sebagian orang gila dan aneh. Itu supaya, aku enggak berlarut-larut didalamnya. Ya, aku ingin menjadi seorang hamba yang selalu ikhlas, sabar menghadapi cobaan hidupnya dan mensyukuri takdirnya, apapun itu.
Mungkin sebelum aku bijak seperti sekarang ini, aku takut bahkan tidak mengakui jika aku telah berada di suatu masa untuk beranjak dewasa. Tapi, ketika semua konflik yang hanya aku lihat di TV, cerita teman atu gossip-gossip murahan itu menerpaku, aku telah menyadari bahwa aku harus siap meninggalkan masa kanak-kanakku dan menghadapi segala rintangan di masa sulit remajaku.
Ya, seperti aku katakan di profil ku ini, "Aku ingin seperti Khadijah, seorang kekasih yang mencintai kekasihnya tanpa syarat. Juga memimpikan seperti Aisyah, seorang gadis yang cerdas bukan main. Mendambakan pula seperti Fatimah, seorang anak yang sangat berbakti. Dan lebih dari itu semua, aku hanya ingin, akan dan selalu menjadi diriku sendiri. Menjadi aku yang berharap untuk mencintai Allah melebihi apapun, siapa dan kapanpun bahkan cinta itu sendiri. Meski aku sadar, aku hanyalah yang tersusun oleh nafsu-nafsu manusiawi. Menjadi aku, yang bagaikan robot otomatis menurut tanpa ampun kepada As-Sunah dan Al-Qur'an. Jikalau dengan begitu belum cukup mampu membuatku mendekati kesempurnaan. Menjadi aku, yang menjabat sebagai budak dan pengikut setia Rasulullah saw. Walaupun aku tidak pernah bisa mengelak jika aku ini hanya seorang anak ingusan. Dari itu semua, mengertikah maka mengertilah, bahwa sesungguhnya aku belum atau tidak sanggup mengartikan aku."



Tidak ada komentar:
Posting Komentar