Aku tak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Teman SD-ku itu telah menjadi gadis yang sedang beranjak dewasa, begitupun aku. Selama 7 tahun terakhir, baru kali ini aku melihatnya terbuka padaku. Bahkan yang tak pernah imajinasiku mampu menjangkaunya. Ketek, seorang gadis yang memiliki selera tinggi dan tak gampang suka pada seorang laki-laki, baru saja akhir-akhir ini, diceritakannya tentang perasaannya itu. Perasaan yang dipersembahkan –menurutku- kepada orang yang salah. Entah mengapa, dia menjadi membenci laki-laki berambut pirang itu? Terutama, seorang gadis yang seperti biasa duduk diantara dua bangku didepanku.
Bukan hanya karena itu, teman, aku berani menyumpahi diriku untuk tidak menyukai laki-laki manapun dan apapun bentuknya, dan untuk menutup hatiku rapat-rapat, serapat tanpa celah. Juga, kisah terjualnya handphone pertamaku itu. Aku begitu merindukannya, memencet tombol-tombolnya yang kaku namun elegan, memandangi layarnya yang lebar dan berusaha menerjemahkan kecanggihannya ke dalam otakku. Hanya barang satu-satunya itulah yang aku miliki, barang yang memiliki bau khas mobil bocah kesayangan nenek.
Mungkin, ini adalah pilihan terbodohku sepanjang tahun 2009 ini. Tapi, sejujurnya, aku benar-benar tak sanggup lagi untuk menunggunya. Menunggunya menghubungiku, bukan laki-laki berbagai jenis itu yang tak mampu sejengkal pun mendekati hatiku. Aku tak ingin menunggunya lagi, mengharapkannya ataupun menghidupkannya dalam imajinasiku kembali. Meskipun, aku dengannya hanya berjarak tak sampai sekilometer setiap harinya sampai menjelang petang, dan tidak memungkin untuk berpapasan sesering mungkin, tapi sedikit pun aku tak akan, tak pernah, atau barangkali takut jika trauma ini pergi untuk memasukkannya dalam kehidupanku kembali.
Lewat lelaki yang sama sekali bukan kuimpikan itulah aku merasakan dunia yang hanya pernah aku lihat dan dengar. Namun aku benar-benar merasakannya, ketika dia mengambil hatiku, untuk mencabik-cabiknya, lalu dibuangnya seperti bangkai busuk.
Itulah Cinta.
Dulu, aku sering dibuat bingung. Kenapa begitu bodohnya seseorang yang merelakan segalanya untuk yang dicintanya, semuanya, nyawa tak terkecualipun? Sekarang, aku akui, akulah orang yang bodoh itu. Menyepelekan cinta.
Sampai detik ini pun, meski telah berulangkali aku menguburnya sedalam tancapan dadaku, aku masih mampu dan tak pernah berhenti merasakannya. Karena semakin dalam aku menguburnya, maka semakin besar pula aku dapat merasakan, betapa lekatnya dia tertancap dalam hatiku. Sungguh, sangat begitu sakit. Kesakitan ini, begitu mengalir deras dalam darahku, setiap hembusan nafasku.
Aku pun tak menggubrisnya, tak mensepesialkannya pula, juga tak menceritakannya kepada siapapun peristiwa itu. Dia berusaha menyapaku di restroom. Mungkin, maksudnya berdamai? Begitu mudahkah, semua ini, bagi laki-laki? Atau, perasaanku sendirilah yang terlalu lemah.
Teman, mungkin kau takkan pernah bisa merasakannya. Atau, katakanlah saja, dalam bahasa gaulnya lebay (berlebihan). Tentu saja, seseorang tidak akan pernah bisa memasuki alam pikiran orang lain sebelum dirasakannya sendiri.
Aku tak pernah ingin menyebutnya sebagai pahlawan yang pernah membawaku pada dunia yang melenakan sekaligus membutakan hampir seluruh umat manusia itu. Meskipun, aku tak memungkiri jika dialah yang mengajariku tentang pengorbanan cinta. Tapi, itu bukan berarti, aku menganggapnya first love-ku atau lain pula falling in love. Karena aku hanya akan memberikan, menghadiakan dan mempersembahkan cintaku, sekali lagi special, untuk suamiku. Dan, kau tahu teman? Ehm, aku baru saja merasakan cinta monyet. Hahahagz …
Setiap doa yang selalu aku panjatkan, selepas sholat, agar aku mencintai-Nya melebihi apapun, kapanpun dan siapapun, bahkan melebihi kemampuanku. Karena aku yakin, mencintai-Nya adalah hal terindah. Bagiku, itulah cinta yang abadi, yang tak kan pernah lenyap sekalipun ditelan waktu. Aku tak peduli, meskipun Ketek menganugerahiku gelar ‘SOK ALIM’. Karena dari situlah, bermula kebenaran hakiki makna cinta. Yang membuat aku dan sekelilingku ada. Karena aku akan selalu yakin, seumur hidupku, dengan ainul yakin bahwa tidak ada yang mampu menandingi kebesaran cinta Allah. Untukku, juga untukmu Teman!
Sebuah ikrar, meskipun mulia dan suci, tak akan berarti jika hanya seucap janji kata ataupun terlampir di atas lembar kertas. Meskipun, kecil dan tak bermakna, aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk menyisihkan 1/6 dari komisi penjualan handphoneku untuk saudara jauh tak ku kenali itu yang sedang berduka lara.
Sekarang, aku memfokuskan diriku untuk selalu menghargai waktu, setiap detik, setiap momentumnya. Aku telah lama meninggalkan sesuatu yang telah menjadi bagian separuh dalam hidupku. Belajar! Bukankah aku telah mengenali sebagian ilmu hidup dan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa itu? Aku begitu bodoh, berleha-leha dan terus mengutuki takdir itu yang semakin jauh ditinggali waktu. Hingga aku harus menyakiti teman jauh sekelasku. Teman yang kukenal hanya melalui nama dan tampilannya di layar mataku. Gandrong.
Gandrong adalah jajaran professor di X yang –dianggap- terunggul di sekolahku. Yang mampu menandingi kekuatan sakti ilmu Gubes dan Heni. Bedanya, dia terlalu baik untuk duduk sebangku waktu UAS semester I kemarin denganku. Aku berharap suatu hari nanti, aku dapat membalas hutang budiku kepadanya. Hutang budi, untuk nilai-nilai yang telah kurebut darinya. Maaf teman dan tenanglah! Aku berjanji akan berusaha untuk tidak menyontek lagi saat ulangan. Insya Allah.
Baru saja, aku sisihkan sebentar waktu untuk merujuk sholat maghrib. Aku pandangi buku berjudul ‘Maryamah Karpov’, begitu hebatnya buku itu bagiku. Begitu pula, Andrea Hirata, sang pengarang. Yang mengajariku berani bermimpi. Aku pernah menilai Icha bukanlah teman yang baik. Dia sering mencemoohku tanpa disadarinya melukai hatiku juga menjendulku karena alasan sepele. Tapi, aku tak pernah menyangka jika dia merela novel yang sangat membuatku penasaran itu ditanganku sejenak. Subhanallah, begitu gampangnya semua ini berubah.
Teman, jangan kau kira, waktu sejenak itu lancer-lancar saja. Ibu memarahiku, “Ya Allah, itu kenapa kakinya?”. Di kakiku, muncil tanda hitam yang menyerupai danau, karena telah bersentuhan dengan knalpot Taiyegh. Sungguh panas dan perih, meskipun hanya bergesekan. Aku tak ingin memberitahu hal ini kepadanya, dia pasti akan merasa bersalah, meskipun rela berhujan-hujan hanya demi mengantarku pulang.
Itulah Ibu, dia begitu menyayangiku sampai-sampai mendekap erat diriku, sekaligus mengekang mimpi-mimpi lamaku. Seorang jurnalis. Meskipun, kenangan bersamanya raib dimakan kesibukannya di dunia karir, tak seperti ayah, dia adalah –bagiku- wanita terkuat sepanjang masa. Dia adalah wanita yang terpandai berevolusi, bermula menjadi wanita yang seharusnya diam trauma di rumah menjadi wanita yang gagah berani menghadang dunia nyata.
Teman, musim hujan yang berangin semilir belum mau beranjak dari bulan ini. Aku tak gentar, sebagai awal ekspedisiku, aku mengikuti perkenalaan anak-anak TK Darussalam Global. Di Bonbin yang sekarang berubah menjadi KBS itulah aku mulai teringat kembali kenangan bersama Ayah. Kenangan ketika dia mengajakku ke kebun binatang, selalu sabar dan setia menunggu Ibu pulang kerja, mengajariku ilmu tingkat SD, bermain layang-layang di atas genteng dan merasakan bersama tusukan-tusukan air yang tumpah dari langit. Begitu indah. Dia adalah sahabat terindahku, teman! Meskipun, kini, di usia tuanya dia mulai hanyut dalam dunia kerja barunya. Bahkan terus tergiring ke muara sungai yang sangat menyulitkan kita untuk bertemu, bertemu pandang, pendapat pula.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar