Anak panah air yang terus menghujam tubuhku ini tak terasa telah berhasil membuatku menggigil kedinginan. Angin yang bukan lagi sepoi-sepoi itu, tak lagi mampu menentukan arah perjalananku. Langit yang telah mengeluarkan tirai gelapnya tanpa penghias, membuatku tertancap diam membingung. Aku telah berjalan sejauh ini, haruskah ku kembali?

Di sana, di balik punggungku, aku tak mampu menyembunyikan pandanganku. Dia ada, ada selalu. Tapi, tak sejengkal pun, aku mendengarkan hentakan kakinya untuk merambat menyusuri langkahku. Diam membisu dan mematung.
Malam ini, air bah dari langit turun ke bumi, tapi tak pernah sedetik pun, sekalipun bahkan, aku merasakan turunnya cintaku padanya. Sepanjang perjalanan, aku mengutuki diriku sendiri, “Cinta seperti inikah yang rela ku korbankan demi Sang Pencita.”.
Baru beberapa setapak ku lalui, aku ingin tahu meskipun tak ada guna jika aku bertanya kepadanya, “Inginkah kau tahu?”. Aku ingin melihat dan meramalkannya dengan raut wajah yang kurus dimakan hidup itu. Berharap memperoleh kepastian, meskipun itu akan membuatku mati cinta.
Aku hanya mendapati dirinya yang terus memandangku, tanpa ekspresi, tak berbeda dengan sebelumnya, diam membisu dan mematung. Akhirnya, aku sadar jika dia tak berkenan lagi bersamaku, meskipun kenangan bersamanya mampu mematahkan keyakinanku.
Aku mencoba melangkah menjauhinya, pergi atau jika mampu berlari sekencangnya. Tapi, raga tak mau lagi menurut kata hati. Dapat aku rasakan betisku terasa berat, begitu pula kepalaku tak mampu lagi menafsirkan apa yang ada di depanku. Kini, aku lebih menyadari bahwa memutuskan untuk berhenti mencitainya bagaikan menghentikan separuh nafasku. Sesak tersedak-sedak.
Perjalananku tak lagi menyenangkan, hampa dan hambar. Sepanjang perjalanan pulang ditemani pohon cemara bagaikan hantu yang ingin memburuku. Aku tetap harus pulang.
Untuk terakhir kalinya, aku menoleh untuknya, hanya untuknya aku berbalik. Dan aku pertanyakan pertanyaan yang bodoh baginya, “Inginkah kau tahu ? Aku hanya ingin kau bicara. Love me or just hate me, but spare me with your indifference. Please! Cintai aku atau sekalian benci aku, asal jangan acuhkan aku!."
Aku menunggu jawaban darinya, meskipun hanya satu kata. Detik demi detik berlalu, waktu tak mau lagi berkompromi. Tapi, lagi-lagi aku dapati dirinya, hanya mendongakkan wajahnya. Entah apa maksudnya? Mungkin, entahlah. Dia terlalu kekanak-kanakan untuk dapat memahami, betapa besarnya cintaku untuknya.
Dengan mengumpulkan sisa tenagaku, aku terseok-seok menjauh. Entah, apa yang mengganjalku, tiba-tiba aku tak ingat apapun. Apa yang aku lihat hanya gelap, betapa ringannya tubuhku.
Sejak kecelakaan malam itu, aku hanya mampu duduk. Jika ingin ke suatu tempat, aku harus memutar roda kursiku. Sejak saat itu pula, aku bahagia, tapi bukan karena aku telah berhasil melupakannya. Bagiku, dia jodohku, meski hanya sempat dan yang lalu. Karena aku telah mampu menemukan cinta yang menyelimuti hatiku, menghangatkan setiap sudutnya. Meskipun ketika aku menarik nafas dalam-dalam, sempat aku rasakan perih karenanya, perih sekali, hingga takut aku untuk mengulangnya.
Tenggorokanku haus, tapi tak sekering hatiku yang ngilu, karena kaum lawanku. Aku menggerakkan kursi rodaku, untuk mengambil air putih. Tiba-tiba, tak seperti biasanya, ringan tanpa beban. Ganjal. Aku menoleh kebelakang. Aku temui wajah yang menyerupai hatiku, belahan jiwaku,. Setelah lebih dari tiga ratus hari, sekarang dia datang, tapi bukan untuk tinggal hanya mampir sejenak dalam poros waktu hidupku.
Tak ada orang yang mau jatuh ke jurang yang sama. Dengan setengah berteriak aku memakinya, “Inginkah kau tahu? Sebagai seorang wanita, yang mencintai Tuhannya. Tak akan pernah aku menukar harga diriku dengan cinta harammu. Kembalilah, tapi jangan pernah mengambil kembali hatiku untukmu yang telah tertancap kuat di dasarnya!”.
Dia yang diam, begitu diam, hanya memandangiku. Aku tak pernah menunggunya, apalagi menantinya berkata, meski seucap pun. Tanpa pikir panjang, aku gerakkan kedua roda kursiku. Baru lima putaran roda, aku menoleh ke arahnya, bukan berharap agar dia mengerjarku. Tapi, berbalik arah denganku.
Aku mentapnya untuk kali pertama sejak malam itu sekaligus yang terakhir, harapku. Aku melihatnya bersanding dengan seorang yang sejenis dengannya. Aku tak percaya, aku amati kembali, dalam jarak tak kurang dalam 5 meter. Gambar objek yang ditangkap oleh otakku tak salah lagi, mereka berdua saling merapatkan jari.
Setelah ribuan bahkan jutaan detik, aku menunggunya bicara, baru kali ini dia berkata, “Maafkan aku!”.
Dengan air mata yang tak terbendung lagi, aku kembali menangis, meraung-raung dalam hati. Aku prihatin dengan diriku yang taat mencintainya, tapi aku jauh lebih mengasihani diriku sendiri. Mengapa aku terlalu kekanak-kanakan untuk tak mengerti bahwa ini adalah kodrat?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar